Kesetiaanya padaMu membuatku malu

Bismillahirrahmanirrahim..

“Bicara mengenai kesetiaan tak semudah ucapan lisan, karena Ia butuh pembuktian.”

Itu kata kata umum yang tak jarang ditelinga kita bukan? Mulai dari anak muda, dewasa bahkan manula mengerti apa itu arti “Setia”. Dibalik kata setia ini akan selalu ada pembuktian, dan disetiap pembuktian pastilah ada sebuah pengorbanan. Seperti yang disebutkan dalam Qs.Al-Ankabut : 2 “apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : ‘kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi?”

Mengingat sebuah pengorbanan sebagai bukti kesetiaan, tentunya kita (sebagai muslim) slalu mengingat kisah Nabi Ibrahim.as yang terkenang dalam Al-quran. Tentang bagaimana Beliau ketika diuji kesetiaannya dengan waktu menunggu seorang anak. Ada waktu dan perasaan yg beliau korbankan, ketika siti sarah tak kunjung mengandung. Nabi Ibrahim.as menghadapinya dengan penuh kesabaran dan tawakal. Kemudian Beliau diuji dengan harus meninggalkan Siti Hajar dan Ismail sendirian demi mengemban tugas. Ada jiwa, raga, keluarga dan lamanya waktu yang harus Nabi Ibrahim.as korbankan ketika itu. Hingga datang perintah untuk menyembelih putra semata wayangnya. Seperti yang kita tahu, Allah Abadikan percakapan Nabi Ibrahim.as dan Ismail di dalam Qs. As-Shaffat : 102, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu maka fikirkanlah apa pendapatmu?’ ismail menjawab : ‘wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang sabar.”

Pengorbanan terbesar seorang ayah, seorang pemimpin, sekaligus seorang Nabi Allah. Sampai pisau hampir menyentuh leher putranya Ismail, Allah menghentikan Nabi Ibrahim.as untuk tidak meneruskan pengorbanannya dan berfirman, Qs. As-Shaffat : 107-110, “dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian yg baik) dikalangan orang-orang yg datang kemudian. Yaitu kesejahteraan semoga dilimpahkan kepada nabi Ibrahim. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang –orang yang berbuat baik.” Dengan ujian ujian itu Allah melihat pengorbanan dan membuktikan kesetiaannya Nabi Ibrahim.as.

Betapapun seorang Nabi yang Mulia, yang surga telah terjamin untuknya, tetap tidak lengah terhadap satu perintahNya. Sesulit dan seberat apapun yang harus dilakukannya, Beliau lakukan dengan iman, sabar, dan tawakal, serta tetap setia, tak membuatnya putus asa. Hingga Allah menghadiahkan dengan sembelihan yang besar dan pujian yang baik kepada Nabi Ibrahim.as atas kesetiaannya.

Lantas, bagaimana dengan “aku”?

“Aku” mungkin adalah kita yang dulunya slalu memohon untuk dimudahkan rezekinya, selalu menggencarkan ibadah untuk bisa mendapatkan 1 pekerjaan tetap. Kemudian akhirnya bekerja, semakin lama semakin membengkak rekening kita, promosi jabatan semakin tinggi. Akankah setelah kondisi itu (dimudahkah, dilancarkan usaha kita) kita tetap setia padaNya? Atau malah melupakanNya? Jika Nabi Ibrahim.as membuktikannya dengan pengorbanan terbesar menyerahkan anaknya, apa kitapun harus melakukan hal yang sama? Tentu tidak kawan. Kita bisa mencontohnya dengan mengganti objek qurbannya, yaitu dengan hewan yang telah disyariatkan. Tentunya dengan sikap yang sama seperti Nabi Ibrahim.as yaitu dilakukan dengan iman, sabar, dan tawakal. Yuk sebelum memasuki Bulan dzulhijah, tak ada salahnya kita persiapkan harta terbaik kita, usaha terbaik kita dari sekarang, sebagai rasa syukur kita kepada Allah. Eits, ingat! Bukan seberapa besar dan seberapa cantik bulu hewan yang kita qurbankan. Namun, seberapa besar iman, sabar dan tawakal yang ada menyertainya. Bismillah. Yuk kita belajar dari sekarang!

Post a comment