Saudah Binti Zam’ah

Written By : Asih

Mengenal Saudah Binti Zam’ah, Perempuan Pertama yang rasulullah nikahi setelah Khadijah

Selain dalam kepemimpian Rasulullah adalah potret teladan dalam kehidupan berumah tangga, baik secara Monogami maupun poligami. Kita tau bahwa selama Khadijah hidup yakni istri pertama rasulullah yang Ia nikahi dengan selisih usia 15 tahun Khadijah menjadi istri satu-satunya rasulullah yang tak pernah merasakan dimadu, ini menjadi potret teladan bagaimana kesetiaan rasulullah tertuju pada Khadijah, kehidupan pernikahannya pun tak luput dari kebahagiaan dan kehormanisan dalam balutan cinta walaupun banyak ujian yang menghadang kala rasulullah menjalankan tugasnya sebagai seorang utusan Khadijah tak pernah letih mendukung rasulullah itulah kenapa Khadijah menjadi istri yang paling istimewa bagi Rasulullah.

Hingga saat sang kekasih tercinta harus kembali pada pemiliNya, wafatnya Khadijah menjadi kesedihan yang mendalam bagi rasulullah. Rasulullah pun menduda dalam waktu yang cukup lama. Dalam sejarah istri rasulullah yang banyak dikenal selain Khadijah adalah Aisyah binti Abu Bakar, namun tak banyak orang yang tau bahwa Aisyah ternyata bukan perempuan pertama yang Rasulullah nikahi setelah Khadijah wafat.

Saudah binti zam’ah adalah perempuan pertama yang rasul nikahi setelah Khadijah wafat, Saudah binti Zam’ah adalah seorang janda yang beriman dan telah mengalami kepahitan karena mempertahankan ke islamannya hingga saudah beberapa kali harus pulang pergi untuk berhijrah ke Habasyah karena tekanan dari Quraisy. Lalu tak lama seorang sahabat yakni Khaulah binti hakim meminta Rasulullah untuk menikahi saudah Rasulullah pun menyetujunya. Saudah yang kala itu merupakan seorang janda yang telah lanjut usia serta tidak begitu cantik tentu merasa sangat bahagia karena dinikahi oleh Rasulullah seketika membuat derajatnya terangkat setelah sebelumnya dipandang rendah oleh kaum Quraisy.

 Saudah mendapatkan cinta dari Rasullah, selama tiga tahun saudah menjadi istri satu-satunya Rasulullah ia mendapat kasih sayang dari Rasulullah dan menjalani kehidupan rumah tangga yang harmonis, saudah adalah istri yang memiliki kesabaran yang luar biasa saudah menyadari bahwa Rasulullah menikahi dirinya semata-mata untuk menaikan derajatnya sebagai orang wanita, dan membantunya menghilangkan kesedihan setelah ditinggalkan oleh suaminya ia pun merelakan dirinya untuk dimadu hingga saat akhirnya Aisyah dan beberapa istri lain memasuki ke dalam rumah tangganya bersama Rasulullah, saudah tetap setia pada Rasulullah, meski demikian saudah pun tetap mendapatkan curahan kasih sayang dari Rasulullah yang mampu bersikap adil pada setiap istrinya.

Rasulullah pernah berniat untuk menceraikan saudah karena sesuatu hal namun saudah memohon agar Rasulullah mempetahankan dirinya, dalam benaknya saudah sudah tak memiliki keinginan seperti wanita lain, keinginannya tak lain hanya ingin dibangkitkan kelak sebagai istri Rasulullah dengan harapan mendapat Ridha Allah. Dan akhirnya Rasulullah pun setuju mempertahankan saudah, dalam sisa umurnya saudah tak mengkhawatirkan tentang posisinya sebagai istri Rasulullah fokusnya hanya  untuk memperisapkan kematian yanh indah bahkan diusia senjanya saudah merelakan kunjungan rasulullah pada dirinya untuk Aisyah sehingga aisyah menaruh kekaguman pada sifat Saudah.

Hingga di akhir hayatnya Allah mengabulkan keinginan saudah yakni meninggal  sebagai istri Rasulullah dan kelak dibangkitan pula sebagai istri rasulullah. Saudah binti izam’ah adalah potret wanita muslimah dengan keimanan dan kesabaran yang luar biasa dia adalah salah satu wanita yang kelak memiliki kedudukan tertinggi di sisi Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَّقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتَعْمَلْ صَا لِحًـا نُّؤْتِهَـآ اَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ ۙ وَاَ عْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيْمًا

wa may yaqnut mingkunna lillaahi wa rosuulihii wa ta’mal shoolihan nu`tihaa ajrohaa marrotaini wa a’tadnaa lahaa rizqong kariimaa

“Dan barang siapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan kebajikan, niscaya Kami berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan Kami sediakan rezeki yang mulia baginya.”

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 31)

* Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

Referensi

Supriyadi,(2016). Dibawah panji Muhammad. Jakarta. PT. Elexmedia komputindo

Post a comment